<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Spektakuler</title>
	<atom:link href="http://spektakuler.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://spektakuler.com</link>
	<description>Hebatkan Dirimu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 11:08:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Petunjuk Nabi dalam Hal Makanan dan Minuman</title>
		<link>http://spektakuler.com/petunjuk-nabi-dalam-hal-makanan-dan-minuman/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/petunjuk-nabi-dalam-hal-makanan-dan-minuman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2012 00:02:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana petunjuk Nabi Muhammad SAW dalam hal Makanan dan minuman? Berikut ini kami paparkan petunjuk Nabi dari sunnah dan sirah beliau sebagaimana ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Zaadul Ma’ad. *** Beliau tidak pernah menolak yang ada, dan tidak memaksakan diri mencari yang tidak ada. Makanan-makanan yang baik yang dihidangkan kepadanya, dimakannya kecuali yang memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/29-april-2012.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-843" title="29 april 2012" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/29-april-2012.jpg" alt="" width="416" height="260" /></a></p>
<p>Bagaimana petunjuk Nabi Muhammad SAW dalam hal Makanan dan minuman?  Berikut ini kami paparkan petunjuk Nabi dari sunnah dan sirah beliau  sebagaimana ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Zaadul Ma’ad.<br />
***</p>
<div>Beliau tidak pernah menolak yang ada, dan tidak memaksakan diri  mencari yang tidak ada. Makanan-makanan yang baik yang dihidangkan  kepadanya, dimakannya kecuali yang memang benar-benar tidak disukainya,  maka beliau meninggalkannya tanpa mengharamkan. Sama sekali beliau tidak  pernah mencela suatu makanan pun. <span id="more-842"></span>Jika berselera, beliau akan  memakannya, dan jika tidak berselera beliau akan meninggalkannya.  Seperti ketika dihidangkan kepadanya daging adh-dhab (sejenis biawak),  beliau membiarkan tidak memakannya, karena beliau tidak biasa  memakannya, tetapi beliau tidak mengharamkannya untuk umatnya. Bahkan  daging ini akhirnya dimakan orang lain di hadapannya, sedang beliau  hanya melihatnya saja.</div>
<div></div>
<div>Beliau pernah memakan kue manisan dan madu, dan kedua jenis makanan  ini termasuk makanan favoritnya. Beliau juga pernah makan daging onta,  daging kambing, daging ayam, daging burung, daging keledai liar, daging  kelinci, makanan dari laut, daging panggang, korma matang, dan korma  kering. Beliau suka minum susu murni dan juga campur. Makan kue yang  terbuat dari tepung yang enak. Minum madu campur air. Minum rendaman  buah korma. Makan bubur yang dibuat dari susu dan gandum. Makan ketimun  dengan korma matang. Makan keju, serta makan korma dengan roti. Makan  roti dengan cuka, dan makan tsarid, yaitu roti dengan daging. Makan roti  dengan lemak, yakni lemak yang dicairkan. Makan hati yang dibakar, dan  makan daging dendeng. Beliau juga makan sejenis labu manis yang dimasak  dan menggemarinya, serta makan makanan yang direbus. Makan bubur daging  dengan samin. Makan keju, dan makan roti dengan minyak. Makan semangka  dengan korma matang, dan makan korma dengan mentega dan beliau  menyukainya.</div>
<div></div>
<div>Beliau tidak pernah menolak makanan yang baik dan tidak pernah  memaksakan diri mendapatkan makanan yang susah untuk didapatkan.  Tuntunan beliau adalah makan apa yang mudah didapat. Saat kekurangan  makanan, beliau bersabar. Sampai-sampai beliau pernah mengganjal  perutnya dengan batu karena lapar. Bahkan pernah pula sampai beberapa  hari tidak dinyalakan api di dapur rumah beliau.</div>
<div></div>
<div>Pada umumnya, makanan beliau disajikan di atas lantai dengan  beralaskan sufrah (karpet). Seperti itulah tempat hidangan makan beliau.  Beliau biasa makan dengan tiga jari dan kemudian menjilatinya jika  telah selesai, dan itu cara yang mulia ketika makan. Sebab orang yang  sombong itu makan dengan satu jarinya; sedangkan orang yang rakus itu  makan dengan lima jarinya.</div>
<p>Kebiasaan beliau tidak makan sambil bersandar. Posisi bersandar itu  ada tiga macam: pertama, bersandar pada sisi tubuh. Kedua, duduk dengan  kaki bersilang di bawah paha. Dan ketiga, bertopang pada satu tangan dan  makan dengan yang lain. Ketiga cara ini tercela.</p>
<div>Pada awal menyantap makanan, beliau selalu menyebut nama Allah SWT  dan diakhirnya memuji-Nya, seraya mengucapkan ketika selesainya:</div>
<div>Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan  diberkati padanya, tidak ditelantarkan, tidak dibiarkan, dan senantiasa  dibutuhkan, wahai Tuhan kami. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)</div>
<div>وربما قال :</div>
<p>Terkadang pula beliau mengucapkan:</p>
<div>Segala puji bagi Allah yang memberi makan dan tidak diberi makan.  Yang telah memberi karunia kepada kami, lalu menuntun kami. Memberi  makan kepada kami dan memberi minum serta setiap cobaan yang bagus Dia  mencoba kami. Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dari  makanan, memberi minum dari minuman, memberi pakaian dari keadaan  telanjang, memberi petunjuk dari kesesatan, memberi penglihatan dari  keadaan buta serta melebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas  kebanyak makhluk yang telah Dia ciptakan. Segala puji bagi Allah, Tuhan  alam semesta. (HR. Ibnu Hibban)</div>
<div>Dan terkadang beliau mengucapkan:</div>
<div></div>
<div>Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum serta memudahkan menelan dan mencernanya. (HR. Abu Dawud)</div>
<div>Kebiasaan beliau, apabila telah selesai menyantap makanan,  menjilati jari jemarinya. Belum ada sapu tangan atau tisu yang bisa  mereka gunakan untuk mengelap tangan mereka, dan bukan kebiasaan mereka  mencuci tangan sehabis setiap kali makan.</div>
<div>Kebanyakan minum beliau dilakukan dengan posisi sambil duduk,  bahkan beliau menegur dengan keras orang yang minum sambil berdiri.  Tetapi, suatu kali beliau pernah juga minum sambil berdiri. Ada yang  mengatakan, riwayat ini telah dinasakh (dihapus) oleh adanya larangan  beliau. Ada yang berpendapat, beliau melakukan hal itu, dengan tujuan  untuk menjelaskan kepada umatnya bahwa boleh saja minum dengan dua  posisi itu. Namun, pendapat yang lebih kuat –wallahu a’lam- kejadian  bahwa beliau minum sambil berdiri adalah karena adanya satu alasan.  Konteks cerita menunjukkan hal itu. Karena ketika itu, beliau  menghampiri sumur zamzam, dan banyak orang yang sedang mengambil air  darinya, lalu beliau mengambil timba untuk menciduk air kemudian  meminumnya sambil berdiri.</div>
<div></div>
<div>Yang shahih dalam masalah ini adalah larangan minum sambil berdiri,  namun diperbolehkan apabila ada udzur yang menghalangi untuk duduk.  Dengan cara ini bisa dihimpun seluruh hadits pada bab ini. Wallaahu  a’lam.</div>
<div></div>
<div>Apabila telah minum, beliau memberikannya kepada orang yang berada  di samping kanannya sekalipun orang yang berada di samping kirinya lebih  tua daripada yang di samping kanannya.</div>
<p>[Sumber: Zaadul Ma'ad. karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah] Disadur dari BersamaDakwah.Com</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/petunjuk-nabi-dalam-hal-makanan-dan-minuman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepada Saudariku, Para Muslimah: Kami Iri Pada Kalian</title>
		<link>http://spektakuler.com/kepada-saudariku-para-muslimah-kami-iri-pada-kalian/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/kepada-saudariku-para-muslimah-kami-iri-pada-kalian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 08:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=837</guid>
		<description><![CDATA[Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh Israel dalam perang tahun 2006 lalu. Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/28-april-2012.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-838" title="28 april 2012" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/28-april-2012.jpg" alt="" width="416" height="260" /></a></p>
<p>Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam  situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu  menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada  perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh  Israel dalam perang tahun 2006 lalu.</p>
<p><span id="more-837"></span>Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon,  bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah dimanapun untuk  bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di  tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa  melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap  mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.</p>
<p>Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat  kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh  memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis  sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim  dalam tulisannya bertajuk “Kepada Saudariku Para Muslimah”;</p>
<p>Ditengah serangan Israel ke Libanon dan “perang melawan teror” yang  dipropagandakan Zionis, dunia Islam kini menjadi pusat perhatian di  setiap rumah di AS.</p>
<p>Aku menyaksikan pembantaian, kematian dan kehancuran yang menimpa  rakyat Libanon, tapi aku juga melihat sesuatu yang lain; Aku melihat  kalian (para muslimah). Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa  bayi atau anak-anak yang mengelilingin mereka. Aku menyaksikan bahwa  meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap  terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar kecantikan fisik semata.</p>
<p>Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku; aku merasa iri. Aku  merasa gundah melihat kengerian dan kejahatan perang yang dialami rakyat  Libanon, mereka menjadi target musuh bersama kita. Tapi aku tidak bisa  memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang  paling penting kebahagian yang tetap terpancar dari wajah kalian.</p>
<p>Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, bahkan di tengah  serangan bom yang terus menerus, kalian tetap terlihat lebih bahagia  dari kami ( perempuan AS) di sini karena kalian menjalani kehidupan yang  alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami  kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga  dibombardir dengan musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir  dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.</p>
<p>Perangkap Setan<br />
Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika.</p>
<p>Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah  mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini  terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami.  Kalian dapat menghinda dari bombardir semacam itu jika kalian mau  mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari  pengaruh jahat mereka.</p>
<p>Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket  kebohongan dan penyimpangan realitas. Hollywood menampilkan seks bebas  sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka  sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui  program-program beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum  racun mereka.</p>
<p>Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat  penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan  pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya  sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan  oleh racun-racun itu.</p>
<p>Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang  merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang,  puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa  keluarga. Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.</p>
<p>Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi,  membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku  kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan rakus  memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja. Orang-orang seperti di  Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan meyakinkan kaum  perempuan agar mau tidak punya banyak anak.</p>
<p>Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk  perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani  kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang.  Orang-orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian  sendiri dan kehilangan imam. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa  agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi  pikiran kalian.</p>
<p>Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas  murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya  mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum  perempuan di Barat yang telah tertipu.</p>
<p>Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba  meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah  seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim  lebih “seksi” daripada model pakaian Barat, karena busana itu  menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah “misteri” dan  menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah.</p>
<p>Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang  yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki  yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah  dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang  bersikap jantan, mereka berhak mendapatkan yang terbaik dari kaum  perempuannya.</p>
<p>Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah  mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi  sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.</p>
<p>Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin  kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi  saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan  berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka  mengenakan kerudung.</p>
<p>Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal  atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam  hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan  Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu  kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di  majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas  palsu.</p>
<p>Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah !<br />
Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih  penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya.</p>
<p>Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu  adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah  dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi. Tapi  sesungguhnya hal itu sangat tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan  akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.</p>
<p>Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal.  Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya  perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras,  kebangsaan atau agamanya.</p>
<p>Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah  keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang  mereka cintai. Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya  bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir dalam pekerjaan,  memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa  saja yang disukai.</p>
<p>Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah  ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan  merasa aman untuk mencintai.</p>
<p>Dosa tidak akan memberikan kenikmatan, tapi akan selalu menipu  kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak  tergantikan seperti kehormatan saya semula.</p>
<p>Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran  bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang tertindas.  Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang  merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis  cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa.</p>
<p>Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam  kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagaian dari kami tidak  mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir  bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan  kami.</p>
<p>Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya  satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan  kasih sayang. Keuarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian  tahu siapa dibalik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai  tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu  mempengaruhi kalian.</p>
<p>Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan  Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan  seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi  kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada  kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah !. [ln/iol, <a href="http://eramuslim.com/muslimah/kepada-saudariku-para-muslimah-kami-iri-pada-kalian.htm">EraMuslim</a>] Disadur dari Bersamadakwah.com</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/kepada-saudariku-para-muslimah-kami-iri-pada-kalian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malas Beribadah</title>
		<link>http://spektakuler.com/malas-beribadah/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/malas-beribadah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 00:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=833</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kita malas untuk pergi ke masjid, khususnya pada waktu shalat isya dan subuh? Atau kini kita sedang mengalaminya? Malas untuk shalat malam walaupun kita sempat terbangun? Mungkin kita perlu melihat sisi lain malas beribadah agar kembali bersemangat menunaikannya. Syaikh Aidh Al Qarni mencantumkan malas beribadah ini sebagai karakter kelima orang munafik. Dalam bukunya Tsalatsuna ‘Alamatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/11-april-12.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-834" title="11 april 12" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/11-april-12.jpg" alt="" width="416" height="260" /></a></p>
<p>Pernahkah kita malas untuk pergi ke masjid, khususnya pada waktu  shalat isya dan subuh? Atau kini kita sedang mengalaminya? Malas untuk  shalat malam walaupun kita sempat terbangun? Mungkin kita perlu melihat  sisi lain malas beribadah agar kembali bersemangat menunaikannya. <span id="more-833"></span></p>
<p>Syaikh Aidh Al Qarni mencantumkan malas beribadah ini sebagai karakter kelima orang munafik. Dalam bukunya <em>Tsalatsuna ‘Alamatan lil Munafiqin</em>, beliau menjelaskan hal itu seraya menampilkan karakter kebalikannya yang dimiliki kaum mukminin, yaitu semangat beribadah.</p>
<p><em>…dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas…</em> (QS. An-Nisa : 142)</p>
<p>Inilah firman Allah memotret karakter orang munafik. Mungkin orang  munafik itu masih menunaikan shalat, namun ia menjalankannya dengan  malas. “Orang-orang munafik pada masa dahulu,” kata Aidh Al Qarni, “juga  mengerjakan shalat bersama Rasulullah, tetapi mereka mengerjakannya  dengan malas.”</p>
<p>Maka, semestinya kita takut seandainya kita malas beribadah, itu  menjadi pertanda kita dihinggapi kemunafikan. Malas beribadah dalam arti  yang luas, tidak terbatas pada shalat. Aidh Al Qarni menjelaskan bahwa  malas puasa, malas berzikir, malas menghadiri halaqah atau majelis ilmu,  dan malas berdakwah juga termasuk tanda kemunafikan, sebagaimana malas  shalat.</p>
<p>Sebaliknya, orang mukmin memiliki semangat dan vitalitas dalam  beribadah. Rasulullah dan para sahabat menjadi contoh utama dalam hal  ini.</p>
<p>Aswad bin Yazid bertanya kepada Aisyah, “Kapan Rasulullah bangun  untuk shalat malam?” Aisyah menjawab, “Beliau selalu bangun jika  mendengar ayam berkokok.” Aisyah melanjutkan, “Lalu beliau melompat  dengan suatu lompatan.” (HR. Muslim)</p>
<p>Demikianlah semangat Rasulullah dalam beribadah. Aisyah tidak  mengatakan “beliau berdiri”, tetapi “beliau melompat.” Subhaanallah.  Benar-benar menggambarkan vitalitas dalam beribadah.</p>
<p>Para sahabat dan orang-orang shalih terdahulu juga memberikan contoh  yang luar biasa. Mereka memiliki semangat, antusias dan vitalitas  beribadah; menggambarkan luapan keimanan mereka.</p>
<p>“Urwah bin Zubair biasa shalat sunnah di malam hari,” kenang Ibnu Syaudzab, “dengan menghabiskan seperempat Al-Qur’an.”</p>
<p>“Urwah bin Zubair tidak pernah meninggalkan dzikir malam,” tambah  Abdullah bin Muhammad bin Ubaid menguatkan, “kecuali saat kakinya  diamputasi.”</p>
<p>“Selama 50 tahun,” kata Abdul Mu’in bin Idris dari ayahnya, “Sa’id  bin Musayyab shalat Shubuh dengan wudhu Isya”. Hebatnya lagi, selama 50  tahun itu Sa’id bin Musayyab tidak pernah tertinggal takbiratul ula,  juga tidak pernah melihat punggung jama’ah karena tidak pernah berada di  shaf kedua.</p>
<p>Dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan Imam Tirmirzi semangat  beribadah, khususnya shalat berjamaah dikaitkan langsung sebagai bukti  keimanan.</p>
<p><em>Barangsiapa yang kalian lihat biasa ke masjid, saksikanlah bahwa ia beriman</em> (HR. Tirmidzi dan lain-lain)</p>
<p>Jika demikian halnya, adakah pilihan lain bagi kita selain memerangi  kemalasan? Takutlah kita jika kemalasan tidak lain adalah tanda  kemunafikan yang menghinggapi kita, meskipun itu adalah nifaq amali. []</p>
<p>Sumber: Bersamadakwah.com</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/malas-beribadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Landasan Interaksi Suami Istri</title>
		<link>http://spektakuler.com/landasan-interaksi-suami-istri/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/landasan-interaksi-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 15:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=829</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang Anda inginkan terhadap keluarga Anda? Pasti tidak ada satupun suami atau istri di dunia ini yang menginginkan keluarganya kacau, selalu bermasalah, dan menjadi neraka dunia. Begitupun Anda. Anda pasti menginginkan keluarga yang harmonis, hubungan suami istri yang romantis. Anda pasti menginginkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Rumah tangga menjadi surga dunia, baiti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/10-april-12.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-830" title="10 april 12" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/10-april-12.jpg" alt="" width="416" height="260" /></a></p>
<p>Apa yang Anda inginkan terhadap keluarga Anda? Pasti tidak ada satupun suami atau istri di dunia ini yang menginginkan keluarganya kacau, selalu bermasalah, dan menjadi neraka dunia. Begitupun Anda. Anda pasti menginginkan keluarga yang harmonis, hubungan suami istri yang romantis. Anda pasti menginginkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Rumah tangga menjadi surga dunia, baiti jannati. <span id="more-829"></span></p>
<p>Untuk menggapainya, Islam mengajarkan kepada kita untuk membangun kehidupan keluarga dengan landasan interaksi suami istri sebagai berikut:</p>
<p>1. Keseimbangan (At-Tawazun)</p>
<p>Allah SWT memberlakukan hukum tawazun (kesimbangan) pada ciptaan-Nya. Kita akan mendapati keseimbangan yang luar biasa pada alam ini. Matahari yang jaraknya tepat menghasilkan keseimbangan suhu bumi. Adanya siang dan malam. Bintang-bintang yang menghiasi langit dengan indahnya. Oksigen yang tepat bagi pernafasan manusia. Dan sebagainya.</p>
<p>Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. Al-Mulk : 3)</p>
<p>Dengan keseimbangan ini kehidupan berjalan dengan baik. Sebaliknya, tatkala keseimbangan ini hilang, yang terjadi adalah kerusakan dan kebinasaan. Seperti ketika manusia merusak keseimbangan alam dan membuat tata lingkungan “baru”. Saat hutan digunduli dan air-air dicemari. Banjir adalah salah satu dampak dari ketidakseimbangan seperti ini.</p>
<p>Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga. Islam mengajarkan keseimbangan ini sebagai salah satu prinsip yang harus diterapkan oleh suami istri.</p>
<p>Dan para perempuan memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf… (QS. Al-Baqarah : 228)</p>
<p>Menurut Ath-Thabari, sebagian ulama saat menjelaskan ayat ini mengatakan, “Dan mereka (para istri) mempunyai hak untuk ditemani dengan baik dan dipergauli secara makruf oleh suami mereka. Sebagaimana mereka berkewajiban mentaati suami dalam hal-hal yang telah diwajibkan Allah atas mereka.”</p>
<p>Sedangkan Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar, menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, “Dan yang dimaksud dengan keseimbangan di sini bukanlah kesamaan wujud sesuatu dan karakternya; tetapi yang dimaksud adalah bahwa hak-hak antara mereka itu saling mengganti dan melengkapi. Tidak ada suatu pekerjaan yang dilakukan oleh istri untuk suaminya melainkan sang suami juga harus melakukan suatu perbuatan yang seimbang untuknya. Jika tidak seimbang dalam sifatnya, maka hendaklah seimbang dalam jenisnya.”</p>
<p>Sikap seimbang ini harus ada dalam kehidupan berumah tangga. Sebagaimana suami memiliki kewajiban terhadap istri, istri juga memiliki kewajiban terhadap suami. Jika suami ingin istrinya setia, demikian pula istri menginginkan suaminya setia. Jika suami ingin dicintai oleh istrinya, istri juga ingin dicintai sang suami. Jika suami senang istrinya berdandan rapi dan cantik, istri juga senang suami berdandan rapi untuknya. Jika suami senang dilayani istrinya, istri juga senang dilayani suaminya.</p>
<p>Jika masing-masing istri dan suami menerapkan prinsip keseimbangan (tawazun) ini tidak akan ada perasaan terbebani salah satunya melebihi yang lain. Beban dan masalah yang dihadapi keluarga menjadi lebih ringan, dan perasaan cinta semakin bertumbuh melihat pasangan terkasih telah melakukan yang terbaik baginya.</p>
<p>2. Keadilan (Al-Adalah)</p>
<p>Keadilan harus menjadi landasan dalam interaksi suami istri, karena hanya dengan sikap itulah harmoni hubungan bisa dijaga dan dilestarikan. Bahkan lebih dari itu, jika masing-masing suami dan istri dapat bersikap secara adil maka kebersatuan mereka akan menghasilkan sebuah potensi besar yang sangat diperlukan untuk melahirkan generasi penerus berkualitas.</p>
<p>Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-maidah : <img src='http://spektakuler.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sikap adil yang lebih cenderung pada taqwa itu harus dimiliki suami istri dalam interaksi mereka. Sikap adil harus menghiasi kehidupan rumah tangga, dari hal-hal kecil hingga persolan besar. Adalah tidak adil jika suami mencela makanan yang dibuatkan istrinya, sementara ia sendiri tidak bisa memberi bahan-bahan dan peralatan masak yang cukup. Adalah tidak adil jika suami menuntut istri bersolek layaknya artis sewaktu di hadapannya, sementara suami tidak memberi nafkah yang cukup untuk membeli kosmetik yang diperlukan.</p>
<p>Begitupun, adalah tidak adil jika istri mencela suami karena kesalahan kecil sementara kebaikan suami tidak pernah dipujinya. Adalah tidak adil jika istri tidak pernah berterima kasih kepada suaminya yang bekerja keras sebulan penuh dan menyerahkan gajinya, sementara saat ada hadiah kecil dari teman saja istri tersebut mengucapkan terima kasih berkali-kali dan menyanjung-nyanjungnya.</p>
<p>Sikap adil harus diawali dari pemahaman diri dan penerimaan. Suami/istri harus memahami kewajibannya dulu dan menjalankannya. Tidak diawali dari menuntut haknya. Sikap adil lebih mudah dilakukan suami istri jika ada rapat/suro keluarga. Tentu jangan disamakan dengan rapat di kantor yang formal. Rapat/suro keluarga bisa dilakukan dengan santai sambil minum teh bersama atau acara santai lainnya.</p>
<p>3. Cinta dan Kasih Sayang (Al-Mahabbah war Rahmah)</p>
<p>Cinta dan kasih sayang merupakan hal yang sangat penting dalam interaksi suami istri. Dan kehidupan rumah tangga harus dibangun di atas landasan ini. Meskipun ada perbedaan tentang mahabbah dan rahmah. Bahwa mahabbah adalah cinta di kala suami istri masih usia muda atau usia produktif dan rahmah adalah cinta saat mereka sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek. Saat itu tidak ada hubungan suami istri sebagaimana lazimnya saat mereka muda, tetapi kasih sayang tetap membuat mereka bersatu dan saling mengasihi meskipun tidur saling membelakangi.</p>
<p>Dengan cinta dan kasih sayang, seorang suami akan berusaha semaksimal mungkin membahagiakan istrinya. Demikian pula istri akan membahagiakan suaminya. Cinta dan kasih sayang dalam ikatan pernikahan harusnya menjadi cinta paling kuat dan paling kokoh melebihi apapun antara dua orang. Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai melebihi pernikahan (HR. Ibnu Majah)</p>
<p>Lalu bagaimana jika pernikahan kita belum juga membuahkan cinta atau cinta di awal pernikahan kini semakin tergerus dan nyaris tiada? Salah satu tips yang bisa dilakukan adalah dengan mencari satu saja kelebihin istri/suami kita yang tidak dimiliki orang lain. Kalau mencari yang sempurna (lebih dalam segala hal), percayalah, kita tidak akan pernah mendapati satupun manusia seperti itu. Cari satu saja kelebihannya dan fokuslah ke sana. Sudah saatnya kita mengabaikan pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau.”</p>
<p>Tips lainnya adalah dengan selalu mengingat kesetiaan dan pengorbanannya. Lihatlah sisi lemah atau kekurangan kita lalu bersyukurlah karena Allah menjadikan pasangan kita menerima apa adanya. Kenanglah saat kita sakit siapa yang melayani dan menunggui kita. Ingatlah saat kita lemah siapa yang menguatkan kita. Saat kita kedinginan, siapa yang menghangatkan jiwa kita. Atau bahkan, pandanglah anak-anak kita, istri yang melahirkan mereka dengan resiko nyawa. Suami yang giat bekerja demi masa depan mereka.</p>
<p>4. Mendahulukan Kewajiban daripada Hak (Taqdiimu Ada-il Wajibaat ‘ala Thalabil Huquuq)</p>
<p>Seringkali problematika rumah tangga bermula dari ego suami/istri. Ia selalu menuntut hak-haknya, tetapi tidak memperhatikan kewajibannya. Ia begitu tahu, secara detail, apa-apa yang menjadi haknya, tapi kurang peduli dengan kewajibannya.</p>
<p>Interaksi suami istri seharusnya dibangun di atas landasan yang benar: mendahulukan kewajiban daripada hak. Karena itulah, buku Kewajiban Istri Kepada Suami harus dibaca istri, bukan ditulis untuk dibaca suami. Sebaliknya, buku Kewajiban Suami kepada Istri harus dibaca oleh suami, bukan ditulis untuk dibaca istri.</p>
<p>Dicontohkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari bagaimana Abu Darda sangat konsen pada ibadah kepada Allah, sampai-sampai ia tidak berdandan, tidak memperhatikan makan dan tidurnya. Saat Salman Al-Farisi bertamu dan mengetahui hal ini, ia mendapat konfirmasi dari istri Abu Darda bahwa memang Abu Darda tidak memiliki hajat pada dunia. Salman kemudian menasehati Abu Darda dengan kalimat yang disetujui Rasulullah: Terhadap tuhanmu ada kewajiban yang harus kau tunaikan, terhadap badanmu ada kewajiban yang harus kau tunaikan, terhadap keluargamu ada kewajiban yang harus kau tunaikan. Maka berikan hak kepada orang yang memiliki haknya.”</p>
<p>Maka… sudahkah kita memenuhi kewajiban kita sebagai suami/sitri kepada pasangan tercinta kita? Atau jangan-jangan kita malah tidak begitu tahu apa-apa kewajiban kita? Semoga tidak.</p>
<p>Semoga kita menjadi suami/istri yang baik, yang dengannya kita menempatkan diri pantas mendapati istri kita juga baik. Semoga kita menjadi suami/istri yang adil dan penuh cinta, dengannya kita sesungguhnya menyiapkan untuk pantas dikaruniai Allah nikmat besar: istri/suami kita juga penuh cinta kepada kita.[]</p>
<p>Sumber: BersamaDakwah.Com</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/landasan-interaksi-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahai Pemuda, Jangan Layu Sebelum Berbuah!</title>
		<link>http://spektakuler.com/wahai-pemuda-jangan-layu-sebelum-berbuah/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/wahai-pemuda-jangan-layu-sebelum-berbuah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 06:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=825</guid>
		<description><![CDATA[SEMUA manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda),kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahaqa (puber) dan kuhulah (produktif) antara usia 15-35 tahun. Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/7-april-2012.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-827" title="7 april 2012" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/7-april-2012.jpg" alt="" width="416" height="260" /></a></p>
<p><strong>SEMUA</strong> manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase <em>shobi</em> (bayi), <em>thifl </em>(balita), <em>murahiq</em> (pemuda),<em>kuhulah </em>(dewasa), dan <em>syaikh</em> (tua).  Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan  bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan  seseorang adalah fase <em>murahaqa</em> (puber) dan <em>kuhulah</em> (produktif) antara usia 15-35 tahun.<span id="more-825"></span></p>
<p>Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (<em>ittijah</em>), kepribadian (<em>syakhshiyyah</em>), karakter, bakat (<em>syakilah</em>) khusus, maka rambutnya akan memutih (<em>al masyiibu</em>) dalam keadaan ia memiliki tradisi (<em>daabu</em>), akhlak seperti itu.”</p>
<p>Ahli sastra Arab dahulu pernah menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Tetapi, itu suatu kemustahilan.</p>
<p><em>“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan  memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh  orang yang sudah pikun dan beruban”.</em></p>
<p>Marilah kita hitung usia produktif dalam logika kehidupan manusia.</p>
<p>Umumnya umat Rasulullah Saw berusia antara 60-70 tahun (HR. Ahmad). Seumpama kita ditakdirkan berumur 63 tahun seperti <em>uswah, qudwah</em> (panutan)  kita, 13 tahun pertama tentu tidak masuk perhitungan, berarti tidak  bisa kita nilai. Kita belum baligh. Jadi, usia kita yang bisa dihitung  47 tahun.</p>
<p>Jika dalam sehari tidur belasan jam. Yang tersisa setiap hari 2/3.  Tinggallah seputar 16 jam. Dalam aktivitas tidur tersebut tidak ada  catatan amal. Untuk ukuran ini saja, dari 47 tahun, yang tertinggal  2/3-nya.</p>
<p>Lantas, sebagian besar ke mana? Orang itu produktif pada usia puber  atau pada usia tua? Pertanyaan itu perlu kita jawab secara serius.  Supaya aktivitas kita bisa dihisab oleh Allah Swt.</p>
<p>Semakin sering kita berhasil menghadapi godaan pada usia muda, seperti itulah <em>ending</em> kita pada masa tua (<em>syaikhukhah</em>).  Sebaliknya, semakin sering kita kalah dalam mengantisipasi ujian,  seperti itulah akhir kehidupan kita. Pertarungan yang paling berat dan  keras adalah pada usia muda. Kalau diibaratkan seperti matahari, maka  usia muda adalah ketika sinar matahari berada persis di tengah-tengah  kita. Betapa teriknya pada siang bolong itu.</p>
<p>Itulah sebabnya Allah Swt memberikan penghargaan kepada pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah Swt (<em>syaabun nasya-a fi ‘ibadatillah</em>).  Bahkan Allah Swt memberikan perlindungan di padang Mahsyar, ketika  tiada naungan kecuali naungan-Nya. Karena pada usia produktif tersebut  dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan  melanggar. Maka, mengelola masa muda agar tunduk kepada karakter  keagamaan merupakan perjuangan yang berliku, licin, dan mendaki. Hanya  pemuda yang mendapat rahmat dari-Nya yang berhasil melewati godaan.</p>
<p>??????????? ??????? ?????? ???????? ???????? ?? ?????? ???????? ????????????? ?? ?????? ?????????? ?????? ????????? ??????<br />
<em>“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada  penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan  hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.”</em> [al Hadits].</p>
<p>Secara <em>sunnatullah</em> keberhasilan masa tua kita ditentukan  oleh perjuangan yang tak kenal menyerah di masa muda. Keberhasilan  mustahil diperoleh dengan gratis (<em>majjanan</em>), tanpa melewati  proses ujian. Ibarat anak sekolah, untuk naik kelas harus mengikuti  ujian. Jika kita kurang terampil mengelola masa muda dengan menggali  potensi <em>thalabul ‘ilmi (ijtihad)</em>, t<em>aqarrub ilallah (mujahadah), jihad fii sabilillah (jihad)</em>, secara maksimal kelak akan kita pertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi <em>(‘an syabaabihi fiimaa ablaahu)</em>.</p>
<p>Ali bin Abi Thalib mengatakan:<br />
<em><br />
“Barangsiapa jelek akhlaknya (ketika pemuda), ia akan tersiksa ketika tua.”</em></p>
<p><strong>Mengikuti Siklus Ibadah</strong></p>
<p>Mengapa kita perlu shalat lima waktu sehari semalam. Kita ibarat  membuat kolam renang di depan rumah, setiap kali azan berkumandang kita  segera membersihkan lumpur yang menempel dalam diri kita. Sehingga tidak  tersisa sisi gelap dalam pikiran dan hati kita, demikianlah sabda  Rasulullah Saw.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em>demikian sabda Nabi.</p>
<p>Allah Swt membuat perencanaan ibadah, agar kita selalu terjaga. Ibadah <em>yaumiyyah</em>, harian (shalat lima waktu), <em>usbuiyyah</em>, mingguan (shalat Jum’at, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan),<em>syahriyyah</em>, bulanan (puasa Ramadan), <em>sanawiyyah</em>, tahunan (shalat idul fithr dan idul qurban), <em>marrotan fil umr</em>, sekali seumur hidup (ibadah haji ke Baitullah).</p>
<p>Maka, kita perlu membuat standarisasi dalam beribadah. Ada empat kegiatan ubudiyah yang perlu kita lakukan dengan <em>istiqomah</em> (konsisten) dan <em>mudawamah wal istimror </em>(secara berkesinambungan).</p>
<p>Pertama : Shalat fardhu secara berjamaah di masjid</p>
<p>Kedua : Shalat sunnah rawatib ba’diyah dan qabliyah</p>
<p>Ketiga : Membaca al Quran satu juz sehari</p>
<p>Keempat : Ditambah dengan ibadah bulanan</p>
<p>Muhasabah : Seminggu sekali</p>
<p>Ibadah harian yang perlu dipertahankan untuk menjaga stamina ritme  spiritual. Ibadah wajib kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah  Swt (<em>taqarrub</em>). Ibadah sunnah kita lakukan, untuk membangun  kecintaan secara timbal balik antara kita dengan Allah Swt. Jika kita  sudah dicintai, aktifitas kita merupakan jelmaan dari  kehendak-kehendak-Nya.</p>
<p>Supaya kita dekat dengan diri kita sendiri, kita perlu <em>muhasabah usbuiyyah</em> (intropeksi  mingguan). Hati kita mengalami gerakan yang tidak berhenti. Dan itu  harus selalu dikontrol. Jika kita sudah mencapai kenaikan grafik amal,  dan kekurangan kita bisa kita hitung. Berarti kita dalam posisi ideal.  Terjaga dari dosa, hanya Rasulullah Saw.</p>
<p><strong>Bangkit Dari Keterpurukan</strong></p>
<p>Jika kita terjatuh melakukan dosa, kita segera bangkit. Setiap  langkah menuju dosa harus kita persempit ruangnya. Karena, dosa kecil  yang kita remehkan, akan mengajak kepada dosa-dosa kecil berikutnya.  Dosa itu beranak pinak, berkembang biak.</p>
<p>Langkah-langkah untuk bangkit, sebagai berikut:</p>
<p><em><strong>Pertama:</strong></em> <em>Istighfar </em>(memohon ampun kepada Allah Swt). Bukan sekedar memperbanyak<em> istighfar</em>, sekalipun itu berpahala. Yang paling penting adalah dengan<em> istighfar</em> kita selalu menyadari seharusnya makin hari kekurangan, bau tidak sedap dalam diri kita semakin tertutupi (hilang).</p>
<p><em><strong>Kedua,</strong></em> beramal. Setiap kali melakukan kejahatan, susullah dengan amal saleh. (<em>ittaqillah haitsumaa kunta wa atbi’issayyiata al hasanata tamhuhaa</em>).  Kebaikan itu bisa menghapus dosa. Jika kita senang melakukan satu  kebaikan, akan mengajak kepada kebaikan berikutnya. Misalnya, jika kita  suka ke masjid, maka dengan sendirinya kita akan termotivasi untuk  melakukan berbagai amal saleh di situ. Sholat fardhu, sholat sunnah,  membaca Al-Quran, zikir dll.</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda :<em> “Jika engkau melihat seorang laki-laki terbiasa ke masjid, saksikanlah sesungguhnya ia seorang beriman.”</em> [al Hadits].</p>
<p>Demikian pula jika kita senang melangkahkan kaki menuju ke tempat maksiat, maka akan mengerakkan untuk berbuat dosa berikutnya.</p>
<p>Jika kita sedang bersemangat dalam beribadah, lakukanlah sebanyak  mungkin yang Anda mampu. Jika grafik ibadah menurun, minimal pertahankan  yang wajib. Hati kita elastis, fluktuatif. Kita memiliki saat maju dan  saat mundur. Dengan cara di atas kita bisa mengelola naik turunnya hati  kita dengan baik.</p>
<p><strong><em>Terakhir:</em></strong> Berdoa kepada Allah Saw, semoga kita tetap teguh dalam agama-Nya. <em>Ya muqollibal qulub tsabbit qolbii ‘alaa diinik </em>(Wahai Yang Membolak Balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-MU).</p>
<p>Penutup, wahai para pemuda, ingatlah falsafah pohon pisang. <strong>“Janganlah mati sebelum berbuah.”</strong> [Sumber dari tulisan <strong>Abu Hilyatil Auliyah Hadziqoh/www.hidayatullah.com</strong>]</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/wahai-pemuda-jangan-layu-sebelum-berbuah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Berhusnudzan Terhadap Allah</title>
		<link>http://spektakuler.com/belajar-berhusnudzan-terhadap-allah/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/belajar-berhusnudzan-terhadap-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 10:53:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[KISAH ini terjadi pada tahun 1950. Seorang pemimpin suatu fraksi di parlemen RI, semua keluarganya tinggal di Bandung. Untuk kelancaran tugas dan menempatkan pada lingkungan sosial yang kundusif bagi pendidikan anak-anaknya, ia memilih tinggal sendiri di rumah dinas Jakarta. Setiap Sabtu sore, ia pulang ke Bandung dan kembali lagi ke Jakarta pada hari Senin berikutnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/5-april-2012.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-823" title="5 april 2012" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/5-april-2012.jpg" alt="" width="416" height="260" /></a></p>
<p><strong>KISAH</strong> ini terjadi pada tahun 1950. Seorang pemimpin  suatu fraksi di parlemen RI, semua keluarganya tinggal di Bandung. Untuk  kelancaran tugas dan menempatkan pada lingkungan sosial yang kundusif  bagi pendidikan anak-anaknya, ia memilih tinggal sendiri di rumah dinas  Jakarta. Setiap Sabtu sore, ia pulang ke Bandung dan kembali lagi ke  Jakarta pada hari Senin berikutnya.<span id="more-822"></span></p>
<p>Pada Sabtu sore –sebagaimana biasa– beliau bermaksud pulang ke  Bandung dengan menumpang pesawat Dakota. Pesawat andalan anggota DPR  Pusat pada era Orde Lama (Orla). Beliau telah membeli tiket pesawat,  tetapi setibanya di Bandara Kemayoran, tiba-tiba ditegur oleh mahasiswi  yang belum beliau kenal sebelumnya. Pemudi itu menjelaskan bahwa ia baru  saja menyelesaikan ujian akhir di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di  Jakarta, dia ingin segera pulang ke Bandung karena pada Sabtu malam  akan melaksanakan akad nikah, tetapi saat itu ia kehabisan tiket  pesawat. Dengan sangat terpaksa ia memohon dengan hormat kepada anggota  Legislatif –sebagai orang yang sama-sama berasal dari Bandung– agar  berkenan membantunya dengan memberikan tiket beliau itu kepadanya dengan  diganti uang – supaya bisa melangsungkan ijab qabul dan pesta  pernikahannya sesuai rencana.</p>
<p>Anggota parlemen itu tertegun sejenak. Beliau sadar bahwa hari Sabtu  adalah kesempatan sekali seminggu untuk menjenguk dan berbagi (<em>sharing</em>)  dengan keluarganya di Bandung, sementara itu beliau bisa merasakan  betapa kesulitan yang dihadapi oleh gadis seusia putrinya itu.  Seandainya putrinya sendiri mengalami peristiwa serupa, ia juga  mengharapkan pertolongan yang sama. Akhirnya, dengan terpaksa, beliau  memutuskan untuk menunda kepulangannya ke Bandung dan menyerahkan tiket  pesawat kepada gadis tersebut.</p>
<p>Betapa bahagianya si gadis tak dikenal itu. Ia sebentar lagi akan  merasakan peristiwa yang paling berkesan dalam kehidupan. Bersanding  dengan kekasih, si belahan hati tanpa hambatan berarti. Ia mengatakan  kepada sang bapak pejabat tadi, “Terima kasih, semoga Allah Swt membalas  budi baik Bapak dengan kebaikan yang banyak. <em>Jazakumullahu Khairan katsiran</em>,” ujarnya. Meski agak sedikit masgul dan kecewa beliau pulang kembali ke rumah dinas di Jakarta.</p>
<p>Beberapa saat kemudian beliau duduk termenung di ruang depan rumah  dinas seorang diri. Dalam hati beliau muncul sedikit sesal karena  membayangkan kecemasan yang dialami keluarganya di Bandung. Melepaskan  perasaan rindu dengan semua anggota keluarganya terhambat. Di saat  bayangan kekecewaan berkecamuk dalam perasaannya, beliau tersentak  dengan adanya berita yang tidak sengaja didengar dari radio RRI Jakarta  yang mengabarkan bahwa pesawat terbang yang akan ditumpanginya tadi  mengalami kecelakaan. Semua awak dan penumpangnya tewas seketika. <em>“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.”</em>(Sesungguhnya kita milik Allah Swt dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali).</p>
<p>Entah, perasaan apa yang dirasakan dalam dadanya. Di satu sisi ia  bersyukur karena batal pergi. Di sisi lain, ia sedih mengingat nasib  gadis yang menggantikan tempat duduknya dalam pesawat naas tersebut. Ia  baru percaya akan takdir Allah. Rupanya gadis yang bersikeras hati  mengganti tiket beliau sekedar untuk menemukan suratan takdir dari Allah  swt. <em>“Astaghfirullah,”</em> (aku mohon ampun kepada Allah), sahutnya berulang-ulang.</p>
<p><strong>Ridho dengan yang Tidak Kita Suka</strong></p>
<p>Jika direnungkan secara lebih cermat, berbagai peristiwa kehidupan  ini, sesungguhnya terjadi di luar rencana kita. Kehidupan ini dengan  berbagai dinamika dan fluktuasinya merupakan rahasia Tuhan.  Karakteristik kehidupan ini terus berputar mentaati kekuatan fitri,  laksana roda pedati dan timbul-tenggelam dan muncul-hilang. Ada  peristiwa yang semula kita persepsikan sebagai kesedihan, kepahitan,  kegetiran, tetapi didalamnya mengandung kebijaksanaan Tuhan (hikmah).</p>
<p>Pepatah bahasa Arab mengatakan: <em>“Ad Dunya mazra’tul ilm”</em> (dunia adalah ladang ilmu pengetahuan). Romantika kehidupan sesungguhnya menyimpan berbagai pelajaran (<em>madrastul hayah</em>).</p>
<p>Ahli sastra Mesir Ahmad Syauqi Bek mengatakan:<em> “Engkau dilahirkan  ibumu dalam keadaan menangis (membayangkan carut marutnya kehidupan),  sedangkan orang-orang di sekelilingmu tertawa (karena kedatangan anggota  keluarga baru yang diharapkan membantu (mewarisi) tugas-tugas  kehidupan..”</em></p>
<p>Seringkali kita tidak menginginkan sesuatu, namun di baliknya membawa  keberuntungan. Menyakitkan memang, sesuatu yang tidak dihendaki terjadi  pada diri kita. Tetapi, di antara yang mengantarkan kita ke surga  adalah menerima dengan ridho keadaan yang tidak kita sukai. Karena,  tiada kebahagiaan sejati melebihi dari kenikmatan di balik musibah. Uang  gaji yang kita terima secara rutin dengan jumlah yang sudah kita  ketahui, berbeda rasanya dengan uang yang kita peroleh secara  tiba-tiba, <em>ndilalah kersane</em> Allah (terjadi karena kekuasaan Allah), sebagai efek dari amal saleh yang kita lakukan dengan keikhlasan.</p>
<p>Dalam pengalaman kehidupan sehari-hari, betapa banyak karunia Tuhan  yang dianugerahkan kepada kita dengan bungkus yang tidak menyenangkan,  tetapi di cela-celanya mengandung kebijaksanaan, kasih sayang Allah  Swt. <em>Blessing in Disguis </em>(kebaikan terselubung) pepatah Bahasa  Inggris, ini menunjukkan keterbatasan kita dalam memandang dan merancang  masa depan. Kita lemah dalam membaca dan mengungkap misteri atau  rahasia kehidupan di dunia ini. Di atas kita ada tangan-tangan ghaib  yang bekerja secara canggih dengan perencanaan yang matang.</p>
<p>Oleh karena itu agama membimbing kita dengan salah satu ajarannya, konsep <em>husnudz dzon (positif thingking) </em>terhadap  Tuhan pada setiap peristiwa yang terjadi. Allah Swt memiliki segala  sifat kesempurnaan, kemuliaan dan jauh dari segala sifat kekurangan.  Allah Swt bisa saja menghendaki sesuatu dan tidak menginginkan sesuatu,  sesuai dengan keluasan ilmu-Nya.</p>
<p>Yakinlah bahwa Allah Swt itu bersifat rahman dan rahim. Semua surat dalam Al-Quran dimulai dengan<em>‘bismillahirrahmanirrahim’,</em> sebagai  indikasi sifat yang paling menonjol dalam diri-Nya adalah kasih dan  sayang. Dia tidak menurunkan bencana kepada individu, suatu umat, secara  kebetulan, tanpa berjalan sesuai dengan hukum sebab akibat (kausalitas)  dalam<em> sunnatullah</em> (hukum sosial).<br />
<em></em></p>
<p><em>“Tidaklah Tuhanmu menghancurkan negeri secara semena-mena sedangkan penduduknya adalah orang-orang yang berbuat baik.” </em>(QS. Hud (11) : 117).<br />
Dengan berbaik sangka kepada Tuhan, kepahitan, bencana, penderitaan,  tekanan dan tantangan kehidupan, tidak membuat kita rapuh, stagnasi,  berputus asa, kehilangan pegangan. Kegagalan, ketidakmapanan, justru  kita persepsikan sebagai modal yang harus kita bayar untuk meraih  sukses. Pepatah bahasa arab mengatakan: <em>“Likulli mushibati fawaaidu.”</em> (setiap bencana mengandung banyak manfaat).</p>
<p><strong>Prasangka Baik</strong></p>
<p>Cobalah direnungkan sejenak. Seandainya peristiwa naas pesawat  terbang – yang akan membawanya, tidak beliau ketahui lewat berita tadi –  apakah beliau akan menyadari kasih sayang Tuhan yang telah  menghindarkannya dari malapetaka dan musibah dengan diurungkannya  keberangkatannya itu? Kemungkinan besar tidak. Mungkin beliau akan tetap  menyesal karena tidak dapat memenuhi kewajiban beliau terhadap  keluarga.</p>
<p>Tetapi, setelah mengetahui semua kejadian itu berjalan sesuai dengan  rencana suratan takdir-Nya, yang melepaskannya dari kematian, barulah  beliau menyadari betapa nikmat, rahmat, keadilan dan kasih sayang Tuhan,  yang terkandung di balik musibah. Setelah kejadian itu, ia telah  meningkat menjadi manusia yang pandai bersyukur dan selalu memohon ampun  atas sikap <em>negative thinking (su’udzan) </em>kepada Allah Swt selama ini.</p>
<p>Ajaran <em>positive thinking</em> kepada Allah swt yang dipahami, dihayati dan diamalkan seseorang, akan memiliki kecerdasan emosional <em>(wujdaniyyah)</em>, perasaan <em>(syu’uriyyah),</em> spiritual <em>(ruhiyyah)</em> dalam memandang naik turunnya kehidupan.</p>
<p>Setiap menemukan hambatan, segera ia cari hikmahnya. Ia pandai  mengambil pelajaran, yang bisa menambah kekayaan jiwa, memperkuat  sandaran vertikal, memperkokoh stamina ruhani, sebagai aset (bekal)  untuk meneruskan berbagai usaha menuju kesuksesan yang lebih besar dan  selalu melibatkan-Nya.</p>
<p>Ketika orang lain tidak melihat secercah harapan, bagi orang yang  melihat kejadian kehidupan dengan kacamata bening selalu  terngiang-ngiang di dalam telinga batinnya akan janji Allah Swt. <em>“Ingatlah, pertolongan Allah itu dekat.”</em> (QS. Al Baqarah (2) : 214). <em>“Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.”</em> (QS. Al Insyirah : 6).</p>
<p>Ayat Allah di atas menjelaskan kesulitan dengan<em> isim ma’rifat </em>(definitif) <em>“al ‘usr”</em>, sedangkan kemudahan memakai <em>isim nakirah</em> (infinitif) <em>“yusr”</em>, ini menunjukkan sesungguhnya setelah kesulitan yang sedikit itu akan ditemukan berbagai kemudahan.</p>
<p>Pesan penting berbaik sangka kepada Allah Swt sejatinya membangkitkan  kelemahan jiwa, menyalakan spirit batin, menggerakkan potensi lahir dan  batin kemudian dikerahkannya menuju kebangkitan kejiwaan. Dengan  berbagai musibah yang melilit bangsa kita (udara, laut dan daratan),  selayaknya menyadarkan kita untuk selalu intropeksi diri, dan meyakinkan  diri kita sesungguhnya badai itu akan berlalu. Bencana adalah tangga  yang mesti dilewati untuk mensucikan (<em>tazkiyah)</em>, mendidik (<em>tarbiyah</em>), memandu (<em>ta’lim</em>), dan mendongkrak (<em>tarqiyah</em>) kualitas sikap mental dalam skala kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan bangsa.</p>
<p><em>Penulis adalah kolumnis <strong>hidayatullah.com</strong>, tinggal di Kudus</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/belajar-berhusnudzan-terhadap-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Menata Ulang Pola Kehidupan Kita!</title>
		<link>http://spektakuler.com/mari-menata-ulang-pola-kehidupan-kita/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/mari-menata-ulang-pola-kehidupan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 06:13:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[Dari Hidayatullah.Com Oleh: Shalih Hasyim BERAPAKAH usia Anda hari ini? Rasulullah pernah mengatakan, rata-rata umur ummat nya hanya seputar 60-70 tahun saja. أَعْماَرُ أُمَّتِي بَيْنَ سِتِّيْنَ وَ سَبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنَ يُجاَوِزُ عَلَى ذَلِكَ “Umur ummatku antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu.” (HR. At Tirmidzi 3550, Ibnu Hibban 7/246, Ibnu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/4-april-12-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-819" title="4 april 12-2" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/4-april-12-2.jpg" alt="" width="346" height="260" /></a></p>
<p>Dari Hidayatullah.Com Oleh: <strong>Shalih Hasyim</strong></p>
<p>BERAPAKAH usia Anda hari ini? Rasulullah pernah mengatakan, rata-rata umur ummat nya hanya seputar 60-70 tahun saja.</p>
<p>أَعْماَرُ أُمَّتِي بَيْنَ سِتِّيْنَ وَ سَبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنَ يُجاَوِزُ عَلَى ذَلِكَ</p>
<p><em>“Umur ummatku antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu.” </em>(HR. At Tirmidzi 3550, Ibnu Hibban 7/246, Ibnu Majah 4236).<span id="more-818"></span></p>
<p>Nah, sekarang, marilah kita hitung dengan matematika sederhana saja.  Bisa jadi, kita diberi Allah usia sampai 70 tahun. Tetapi bisa saja  tidak. Marilah kita pilih di tengah, anggap saja, kita diberita  kemudahan untuk hidup pada usia 50 tahun.</p>
<p>50 tahun telah menghabiskan sekitar 18.250 hari atau setara dengan  458.000 jam. Itu andakan kita menggunakannya 24 jam sehari semalam penuh  melakukan aktivitas. Faktanya, kebanyakan manusia membutuhkan  istirahat, tidur, nonton, jalan-jalan, berbelanja, bergurau dll.</p>
<p>Anggap saja waktu tidur kita adalah 8 jam/hari. Maka, dalam masa 50  tahun, waktu yang telah kita habiskan untuk tidur memakan waktu 146.000  jam atau sama dengan <strong>16 tahun 7 bulan </strong>(dibulatkan 17 tahun). Betapa sia-sianya kita menghabiskan waktu selama 17 tahun hanya untuk tidur.</p>
<p>Selain tidur, umumnya kegiatan manusia di siang hari adalah; bekerja,  belajar, mengajar makan, jalan-jalan, istirahat atau ngerumpi. Jika  semua waktu itu memakan waktu 4 jam rata-rata. Maka, dalam 50 tahun  waktu yang dipakai untuk istirahat,ngerumpi, jalan-jalan dll membutuhkan  (18.250 hari x 4 jam) atau 73.000 jam. Ini setara dengan 8 tahun.</p>
<p>Jadi, selama 50 tahun itu pula kegiatan kita untuk tidur,  jalan-jalan, ngerumpi, nonton, istirahat memakan waktu 17 tahun + 8  tahun atau <strong>menghabiskan waktu 25 tahun</strong>.</p>
<p>Jika usia Anda hari ini masih 20-25 tahun, maka tinggal mengurangi 10  tahun “angka sia-sianya”. Maka, hasilnya tetaplah sama, hampir separuh  masa kita telah hilang dengan sia-sia.</p>
<p>Pertanyaannya sekarang, berapa sisa waktu yang dipergunakan untuk beribadah dan sebagai bekal menghadap yang Khalik?</p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>Alkisah, suatu ketika ada seorang tabi’in bernama Tsabit bin Amir bin  Abdullah bin Zubair jatuh sakit. Saat mendengar panggilan azan shalat  Maghrib, ia berkata kepada anak-anaknya, Bawalah aku ke masjid !  Anak-anaknya menjawab : Engkau sedang sakit ! Allah memaafkanmu. Ia  kembali berkata, Laa ilaaha illallah ! Aku mendengar seruan hayya ‘ala  ash-shalah hayya ‘ala al-falah ! dan aku tidak menjawab seruan itu? Demi  Allah, Bawalah aku ke masjid. Mereka pun akhirnya membawa ayahnya ke  masjid. Ketika sampai pada sujud terakhir dalam shalat maghrib itu,  Allah mencabut nyawanya.</p>
<p>Sebagian ulama ada yang menceritakan bahwa lelaki tersebut ketika  melakukan shalat shubuh selalu berdoa, Ya Allah, aku memohon kematian  yang baik pada-MU. Lalu ia ditanya apa maksud dari kematian yang baik  yang ia mohon dalam potongan doanya itu adalah kematian saat bersujud.</p>
<p>Kematian menjemput siapa saja tanpa memandang bulu, masa ajal tiba  adalah rahasia dari-Nya, agar manusia siap menghadapinya setiap saat.  Siapapun tidak bisa menjamin selamat dalam mabuk kematian (sakaratul  maut). Kematian yang indah adalah ketika bersujud, baca al-quran,  berjihad di jalan Allah SWT, di majlis ta’lim, majlis zikir dan majlis  shalat jamaah. Orang akan mengakhiri kehidupannya berbanding lurus  dengan hobinya di dunia. Maka, kita perlu selektif dalam memilih hobi (<em>man syabba, syaaba ‘alaih</em>).</p>
<p>Masalahnya, apakah benar semua kegiatan kita –bekerja, kuliah,  istirahat, makan-makan, jalan-jalan kita– digunakan untuk tujuan puncak,  yakni hanya mengabdikan diri kepada Allah SWT. Andakan persepsi ibadah  kita hanya 5 x sehari semalam, berarti semua itu masih memenuhi tujuan  penciptaan kita.</p>
<p>Berapa lama shalat yang kita lakukan selama 50 tahun? Atau berapa  lama waktu shalat yang telah kita lakukan selama 20-25 tahun usia kita  ini?</p>
<p>Untuk sekali shalat , orang menghabiskan waktu 10 menit. Ini berarti  dalam 5x shalat (menghabislan waktu sekitar 1 jam). Maka, dalam 50 tahun  waktu yang kita digunakan untuk shalat = 18.250 hari x 1 jam = 18.250  jam. Setara dengan 2 tahun.</p>
<p>Masa 50 tahun di dunia hanya 2 tahun untuk shalat? Ini, bagi yang  shalat memakan waktu 10 menit. Kalau cara shalat ekspres (super cepat),  lalu bagaimana?</p>
<p>Benarkah shalat kita itu mencukupi untuk diterima dan pantas untuk menghadap Allah? Mengapa Anda begitu yakin?</p>
<p>Padahal Allah SWT berfirman dalam suratnya:</p>
<p>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ<br />
مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ</p>
<p><em>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya  mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari  mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” </em>(QS. Adz Dzariyat (51) : 56-57).</p>
<p>2 tahun dari 50 tahun kesempatan…itupun belum dapat dipastikan shalat  kita memberikan efek pada perubahan pola pikir dan pembentukan akhlak  yang mulia.</p>
<p>Sepertinya pahala shalat selama 2 tahun tidak sebanding dengan  perbuatan dosa-dosa selama 50 tahun, dalam percakapan yang terkadang  dusta, baik direncanakan atau tidak disengaja, ucapan yang menyinggung,  memakan harta yang bukan milik kita, menggelapkan dan memalsukan  angka-angka dll. Bukankah kita tidak berdaya dalam mengendalikan dosa  panca indra kita?</p>
<p>Menata Ulang Pola Hidup</p>
<p>Suatu yang paling mahal dalam kehidupan kita adalah kesadaran tentang  misi kehidupan di dunia ini. Tiada kata terlambat, sekalipun waktu  demikian cepat, yang berlalu tidak akan kembali. Jangan kita biarkan  kehidupan kita ini sia-sia belaka. Hanya memburu dunia, memarginalkan  kehidupan akhirat.</p>
<p>Pernahkah kita membayangkan, berapa lamakah umat akhir zaman ini menikmati kehidupannya yang fana ini?</p>
<p>Kehidupan di dunia ini bagaikan berteduh di bawah pohon (halte) untuk  menghilangkan kepenatan dalam menempuh perjalanan kehidupan yang jauh.  Atau bagaikan mampir untuk membasahi kerongkongan yang sedang kering,  karena dahaga.</p>
<p>Dalam ayat di atas disebutkan 1 hari menurut perhitungan Allah SWT  adalah 1000 tahun menurut perhitungan kita. Berarti kita hidup tidak  lebih dari 1/10 hari menurut perhitungan-Nya. Sekarang kita mencoba  untuk mengkalkulasi. Dengan cara ini semoga muncul kesadaran baru untuk  tajdidul iman, tajdidul ‘ibadah dan tajdidul akhlaq, tajdidul jihad wal  ijtihad wal mujahadah.</p>
<p>Dalam sebuah firmannya, Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu  tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau  setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”  Allah berfirman : “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja,  kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS. Al-Mukminun (23) : 112-114).</p>
<p>Kesimpulannya, sesungguhnya kehidupan di dunia ini –yang seolah kita  persepsikan panjang– hakikatnya sangat singkat. Alangkah sia-sianya jika  kita gunakan hanya untuk hal-hal yang tak ada hubungannya dengan ibadah  di jalan Allah.</p>
<p>Meminjam istilah Hasan Al Banna, <em>barangsiapa yang mengisi waktunya hanya untuk bersenda gurau berarti melupakan misi kehidupannya</em>. Mudah-mudakan, kita bisa memanfaatkan kesempatan hidup ini jauh lebih baik lagi.*</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/mari-menata-ulang-pola-kehidupan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Wanita Pelit</title>
		<link>http://spektakuler.com/pelajaran-dari-wanita-pelit/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/pelajaran-dari-wanita-pelit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 06:09:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=813</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc DALAM beberapa kitab tazkiyatun nafs, sepertiTanbiihul Ghaafiliin, Al-Jauharul Mauhuub wa Munabbihatul Quluub, dan Al-Mawaaidz al-‘Ushfuuriyyah, dicantumkan sebuah kisah ganjaran yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepada seorang wanita yang pelit bersedekah saat ia hidup di dunia. Inilah petikan kisahnya. Suatu hari datang kepada Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) seorang wanita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/4-april-12.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-814" title="4 april 12" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/4-april-12.jpg" alt="" width="260" height="260" /></a></p>
<p>Oleh: <strong>H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>DALAM beberapa kitab tazkiyatun nafs, seperti<em>Tanbiihul Ghaafiliin, Al-Jauharul Mauhuub wa Munabbihatul Quluub, </em>dan <em>Al-Mawaaidz al-‘Ushfuuriyyah, </em>dicantumkan sebuah kisah ganjaran yang diberikan Allah <em>Subhanahu Wata’ala </em>kepada seorang wanita yang pelit bersedekah saat ia hidup di dunia. Inilah petikan kisahnya.<span id="more-813"></span></p>
<p>Suatu hari datang kepada Nabi <em>Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam </em>(صلى الله عليه و سلم) seorang wanita dengan tangan kanan yang tidak berfungsi (lumpuh).</p>
<p>“Ya Rasul, berdoalah kepada Allah untuk tanganku ini agar bisa  berfungsi kembali seperti semula,” pintanya kepada Rasulullah  Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).</p>
<p>“Kenapa tanganmu bisa seperti itu?” tanya Rasulullah kembali.</p>
<p>Lalu diceritakan wanita tersebut apa yang terjadi dengan dirinya.</p>
<p>“Saya bermimpi seakan kiamat telah terjadi. Neraka jahannam telah  menyala dan surga telah terhidang. Di dalam neraka terdapat beberapa  lembah. Kulihat ibuku berada di salah satu lembah tersebut. Di tangan  kanannya terdapat lemak dan di tangan kirinya terdapat lap kecil yang  menghindarkan tangannya dari terkaman api neraka.”</p>
<p>“Mengapa ibu bisa berada di lembah tersebut?” Bukankah ibu seorang  yang taat kepada Allah dan Ayah selalu ridha dan sayang terhadap ibu?”  tanyaku kepada ibuku.</p>
<p>“Anakku, semasa di dunia ibu pelit. Di sinilah tempat ibu.”</p>
<p>“Lalu apa maksudnya lemak dan kain yang menempel di tangan ibu?”</p>
<p>“Ini adalah balasan sedekah ibu saat masih di dunia. Selama hidup,  ibu tidak pernah bersedekah kecuali lemak dan kain lap. Dua benda inilah  yang melindungi tangan ibu dari sengatan api neraka.”</p>
<p>Aku pun bertanya kembali, “Ayah di mana, Bu?”</p>
<p>“Ayahmu dermawan. Tentulah ia sedang berada di surga di tempat orang-orang yang dermawan.”</p>
<p>Aku bergegas ke Surga untuk menemui ayahku. Kulihat ayahku sedang  berdiri di dekat telagamu, ya Rasul. Ia sedang memberi minum manusia,  menerima gelas dari tangan Ali. Ali dari Utsman. Utsman dari Umar. Umar  dari Abu bakar. Abu Bakar dari tanganmu, ya Rasul.</p>
<p>“Wahai Ayah! Mengapa ibuku yang taat kepada Allah dan patuh dengan  Ayah tega ayah biar berada di salah satu lembah di neraka? Sedangkan  Ayah sibuk memberi minum manusia dari telaga Rasulullah. Ayah, ibu haus  di neraka sana. Berikanlah ia seteguk air saja,” pintaku kepada Ayah.</p>
<p>“Wahai anakku, ibumu itu berada di tempat orang yang pelit dan orang  yang berdosa. Allah mengharamkan air telaga ini diberikan kepada  orang-orang yang pelit dan orang-orang yang berdosa.” Ayah menolak untuk  memberikannya.</p>
<p>Aku nekad mengambilnya segelas, untuk diminumkan kepada ibuku. Ketika  ibuku sedang minum, kudengar suara, “Semoga Allah melumpuhkan tanganmu  karena kamu datang memberi minum kepada orang yang pelit dari telaga  Muhammad.”</p>
<p>Aku terbangun. Dan kulihat tanganku menjadi lumpuh.</p>
<p>Nabi <em>Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam </em>(صلى الله عليه و سلم)  bersabda, “Kepelitan ibumu telah menghukummu di dunia ini. Begitulah  nanti yang akan dirasakan ibumu ketika dihukum Allah?”</p>
<p>Aisyah menceritakan, Nabi <em>Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam </em>(صلى  الله عليه و سلم). lalu menaruhkan tongkatnya ke tangan kanan wanita itu  dan berdoa, “Ya Allah, dengan kebenaran mimpi yang dituturkan wanita ini  sembuhkanlah tangannya seperti semula.”</p>
<p>Tangan kanannya pun sembuh, dan dia pun segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎).</p>
<p>Apa yang layak dipetik dari kisah yang diceritakan Aisyah, isteri  Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tersebut?  Ada tiga hal yang bisa dijadikan pelajaran.</p>
<p><strong>Pertama, </strong>jangan ragukan kalau surga dan neraka itu  memang ada. Karena itu, tak pantas bila kita tak menyiapkan diri untuk  masuk ke surga dan menjauhkan diri segala perilaku  yang bisa menuntun  ke neraka. Cerita adanya telaga Rasul Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى  الله عليه و سلم) di dalam surga menjadi salah satu kenikmatan yang bakal  dirasakan oleh penduduk surga nantinya. Oleh sebab itu, sering-sering  berdoa kepada Allah agar diizinkan merasakan telaga Rasulullah. Kalau  sudah merasakan telaga Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله  عليه و سلم), dipastikan sudah berada di surga.</p>
<p>Ada riwayat dari Abu Said yang menarik untuk diingat agar menguatkan kita saat beribadah.</p>
<p>Rasulullah <em>Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam </em>(صلى الله عليه و سلم) bersabda, “<em>Bila  penduduk surga memasuki surga, maka akan terdengar suara, “Inilah  saatnya kehidupan abadi. Saat yang menjadikan kalian selalu sehat dan  tak akan pernah sakit. Saat yang membuat kalian menjadi seperti remaja  dan tidak pernah tua. Saat yang membuat kalian menerima kenikmatan. Tak  akan susah untuk selama-lamanya.” </em>Semua ini seperti apa yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala.</p>
<p>وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ  الأَنْهَارُ وَقَالُواْ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَـذَا وَمَا  كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللّهُ لَقَدْ جَاءتْ رُسُلُ  رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُواْ أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا  بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p><em>“….. Mereka diseru. Inilah surga yang diwariskan kepadamu karena amal yang kamu kerjakan.” </em>(QS. Al-A’raf [7]: 43)</p>
<p><strong>Kedua, </strong>telaga <em>Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam </em>(صلى  الله عليه و سلم) sudah ditetapkan menjadi balasan untuk orang-orang  dermawan di akhirat kelak. Beruntung sekali bila kita tergolong orang  yang dermawan.</p>
<p>Setiap kali kita bersedekah makin dekat kesempatan kita menikmati  telaga Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). di  akhirat kelak. Sungguh, ini kenikmatan yang luar biasa.  Di dunia saja  sedekah yang diberikan kepada orang lain, mendapat balasan langsung dari  Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎), kita begitu senang.  Apalagi sampai dapat merasakan telaga Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi  Wasallam (صلى الله عليه و سلم).</p>
<p>Bila dikaji di dalam al-Qur’an, Allah mengganti setiap harta yang  disedekahkan dengan jumlah minimal 10 kali lipat. Bisa dilihat di surat  al-An’am [6]: ayat 160. Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi  mereka yang berbuat baik. Bersedekah adalah salah satu perbuatan baik.  Bahkan di dalam surat al-Baqarah [2] ayat 261, Allah menjanjikan balasan  sampai 700 kali lipat.</p>
<p>Maka layak bila kita sering mengingat-ingat hadits yang didengar Ali  Kwh dari Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم);</p>
<p><em>”Sedekah, jika telah dikeluarkan dari tangan pemiliknya, lebih  dahulu berada di ‘tangan’ Allah, sebelum sampai ke tangan orang yang  menerima sedekah. Lalu sedekah itu akan mengucap lima kalimat: Aku kecil  kau besarkan, aku sedikit kau perbanyak, aku musuh kau cintai, aku fana  kau kekalkan, kamu penjagaku, kini aku menjagamu.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em><strong>Ketiga, </strong>jika tidak mau berbagi kepada  orang lain, siap-siaplah menjadi penghuni neraka. Sekiranya sedekah  harta yang diberikan cuma sedikit, tentu hanya itu yang akan dibawanya  ke akhirat kelak. Riwayat yang diutarakan Aisyah ra. di atas sudah jelas  menceritakan bagaimana nasib dan kondisi orang pelit di dalam neraka.</p>
<p>Di dunia saja, orang pelit sering dijauhi masyarakat. Bahkan  masyarakat malas berteman dengannya, apalagi di akhirat. Tak akan ada  yang bisa menolongnya ketika sudah berada di neraka. Persis seperti apa  yang dikatakan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و  سلم);  “Orang pelit jauh dari Allah, jauh dari surga-Nya, dan jauh dari  manusia, tapi dekat dengan neraka-Nya. Dan orang dermawan dekat dengan  Allah, dekat dengan surganya, gampang bergaul dengan manusia, dan jauh  dari api neraka.”</p>
<p>Karena itu, marilah kita menjadi golongan orang dermawan. Golongan yang bakal mendapatkan air dari telaga <em>Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam </em>(صلى الله عليه و سلم). Amin.*</p>
<p><em>Penulis adalah Pengurus Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut. Sumber Hidayatullah.Com</em></p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/pelajaran-dari-wanita-pelit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuasailah Harta, Jangan Dikuasai!</title>
		<link>http://spektakuler.com/kuasailah-harta-jangan-dikuasai/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/kuasailah-harta-jangan-dikuasai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 00:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=809</guid>
		<description><![CDATA[HAMPIR setiap orang berharap memiliki harta yang berlimpah. Apalagi di zaman semua serba uang. Semua kebutuhan dan keinginan harus diperoleh dengan uang. Sayangnya orang banyak lupa, gara-gara harta, tidak sedikit yang nestapa. Lihatlah di negara-negara berteknologi maju dan melimpah materi, justru merebak empat penyakit akibat stres: jantung, kanker, radang sendi, dan pernapasan. Inilah gambaran nestapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/3-april-2012-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-810" title="3 april 2012-2" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/3-april-2012-2.jpg" alt="" width="346" height="260" /></a></p>
<p>HAMPIR setiap orang berharap memiliki harta yang berlimpah. Apalagi di zaman semua serba uang. Semua kebutuhan dan keinginan harus diperoleh dengan uang.</p>
<p>Sayangnya orang banyak lupa, gara-gara harta, tidak sedikit yang nestapa. Lihatlah di negara-negara berteknologi maju dan melimpah materi, justru merebak empat penyakit akibat stres: jantung, kanker, radang sendi, dan pernapasan. Inilah gambaran nestapa peradaban materi. Harta yang dicari dan dibangga-banggakan ternyata membawa sengsara. Tak bisa menjamin hidup bahagia.<span id="more-809"></span></p>
<p>Agar harta tak sia-sia, kita harus bijak menggunakannya. Jika tidak, kita sama saja lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Miskin menderita, kaya pun sengsara.</p>
<p>Nah, bagaimana seharusnya kita menyikapi harta benda ini?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orientasi Tauhid</p>
<p>Apa orientasi dasar hidup kita? Bagaimana kita memandang materi yang kita cari dan kita punyai? Untuk apa semua harta yang kita miliki?</p>
<p>Banyak orang, tanpa sadar, belum memiliki orientasi dasar yang benar terhadap harta. Cara pandangnya kabur, terombang-ambing oleh situasi dan kondisi.</p>
<p>Cara pandang seseorang terhadap harta menunjukkan lurus tidaknya orientasi hidupnya. Seorang yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan harta menunjukkan orientasi dasarnya adalah kekayaan. Ia menjadikan harta itu sebagai tujuan tertinggi. Sehingga ia rela mengorbankan waktu, kejujuran, dan harga diri demi mendapatkan kekayaan.</p>
<p>Bahkan, berdoanya kepada Tuhan pun tidak ada yang diminta kecuali harta dunia. Nasib di akhirat pun terabaikan. Inilah yang disyinyalir oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Firman-Nya:</p>
<p>فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ</p>
<p>Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”; dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (Al Baqarah [2]: 200)</p>
<p>Jika itu yang dilakukan, tidak perlu menunggu di akhirat, di dunia pun pasti akan menuai banyak masalah. Ia telah menebar energi negatif. Dan siapa yang menebar angin, ia pasti menuai badai.</p>
<p>Niat dan tindakan yang tidak benar akan berbuah pahit. Konflik dengan keluarga dan kolega, berurusan dengan hukum, sampai ancaman pembunuhan dari mereka yang merasa dizalimi.</p>
<p>Cara-cara seperti itu jelas tidak mengundang berkah dan ridha Allah Ta’ala. Mungkin bisa saja ia berkelit dari jeratan hukum karena kelicinannya. Tapi, tanpa rahmat Allah Ta’ala, kehidupannya tak akan berkah.</p>
<p>Seorang yang telah bersyahadat mestinya menjadikan tauhid sebagai orientasi dasar dalam hidupnya dan menjadikan ridha Allah Ta’ala sebagai tujuan hidupnya. Adapun harta hanya menjadi alat, bukan tujuan. Maka ia akan menggunakan harta sebesar-besarnya untuk mencapai tujuan mulia itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bernilai Ibadah</p>
<p>Bekerja mencari harta, bila berorientasi benar, bisa memuliakan kita. Meski bekerja terlihat hanya sebagai amalan dunia, tapi jika berbingkai tauhid, semuanya menjadi bernilai ibadah.</p>
<p>Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada anak muda yang kuat dan perkasa. Suatu hari, pagi-pagi sekali, ia sudah keluar rumah untuk bekerja mencari harta.</p>
<p>Kemudian ada orang yang berkomentar, “Kasihan sekali orang itu. Andai kata masa mudanya serta kekuatannya digunakan untuk fi sabilillah, alangkah baiknya.”</p>
<p>Mendengar komentar itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meluruskannya. Kata beliau,”Janganlah kamu mengatakan begitu. Sebab kalau keluarnya orang itu dari rumah untuk bekerja demi mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha fi sabilillah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fi sabilillah. Tetapi bila ia bekerja karena untuk berpamer atau untuk bermegah-megahan maka itu fi sabilisy syaithan (karena mengikuti jalan setan).” (Hadits Riwayat Thabrani).</p>
<p>Dengan semangat fi sabilillah harta menjadi berkah. Harta akan mendatangkan kebaikan karena di sana ada rahmat Allah Ta’ala. Kalau ada kelebihan, insya Allah, bukan untuk kesombongan dan bermegahan, tetapi untuk diberikan kepada orang lain sebagai zakat, infak, dan sedekah. Harta yang baik adalah harta yang ada di tangan orang yang baik, yang digunakan untuk beramal shaleh.</p>
<p>Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada juga yang berharta banyak. Salah seorang di antaranya adalah Abdurrahman bin Auf. Dia pernah menyedekahkan 700 ekor unta beserta muatannya berupa kebutuhan pokok dan barang perniagaan kepada kaum Muslim. Ia juga pernah membeli tanah senilai 40 ribu dinar atau setara Rp 55 miliar untuk dibagi-bagikan kepada para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan fakir miskin. Ia juga pernah menginvestasikan tak kurang 500 ekor kuda perang dan 1.500 ekor unta untuk jihad fi sabilillah.</p>
<p>Ketika wafat ia pun masih sempat mewasiatkan 50 ribu dinar untuk diberikan kepada veteran perang Badar. Masing-masing pahlawan mendapat jatah 400 dinar atau setara Rp 560 juta.</p>
<p>Tidak semestinya kelebihan harta menghalangi kita untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan tidak halal jelas hanya akan mempersulit perjalanan menuju Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan halal tetapi belum digunakan di jalan Allah, juga masih belum bernilai di sisi-Nya.</p>
<p>Harta yang telah disedekahkan di jalan Allah Ta’ala, itulah investasi abadi yang akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah Ta’ala. Sementara harta yang tersimpan, saat maut menjemput, pasti akan kita tinggalkan di dunia ini. Hanya amal yang akan menyertai kita menghadap Allah Ta’ala kelak.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdabda, ”Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.”(HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zuhud Sejati</p>
<p>Banyak orang kaya yang merasa seolah-olah menguasai harta, padahal dialah yang dikuasai harta. Orang yang menjadikan harta sebagai tujuan dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya adalah orang yang telah diperbudak oleh harta dan kesenangan dunia.</p>
<p>Seorang yang punya orientasi dasar tauhid dan istiqamah dengan prinsipnya, akan memiliki mental yang tercerahkan. Kaya bukan semata pada harta, tetapi pada hati. Rasa berkecukupanlah yang membuat orang bisa berdaya memberi dan berbagi.</p>
<p>Sebaliknya, seseorang yang secara materi kaya, tetapi mentalnya masih berkekurangan dan tamak, tak akan mampu mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Ia malah ingin menyimpan sebanyak-banyaknya lagi. Mengambil dan mengambil. Orang demikian telah diperalat oleh hartanya.</p>
<p>Seorang yang bertauhid, hanya menjadi hamba Allah Ta’ala, bukan hamba selain-Nya. Ia hanya rela dikuasai oleh Allah Ta’ala, bukan selain-Nya. Orang seperti Abdurrahman bin Auf mampu memberikan hartanya sampai sekian banyak bukan karena ia kaya raya, tetapi karena ia mampu menguasai hartanya.</p>
<p>Sehingga, meski kaya raya, penampilan Abdurrahman bin Auf tetap sederhana. Ia tidak menyombongkan diri. Pakaiannya sama dengan pakaian pelayannya. Di badannya ada dua puluh bekas luka perang. Cacat pincang dan giginya yang rontok sehingga berakibat cadel, adalah tanda jasa di perang itu.</p>
<p>Harta seharusnya hanya menempel di tangan saja, bukan di pikiran, apalagi di hatinya. Itulah zuhud. Zuhud bukan karena tidak ada harta tetapi karena idealisme tauhidnya. Orang seperti inilah yang akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana doa yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah Ta’ala yang termaktub dalam Al Baqarah [2]: 201.</p>
<p>وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p>“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Wallahu a’lam bish-shawab.*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: Hidayatullah.Com</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/kuasailah-harta-jangan-dikuasai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Pintu-pintu Menuju Kemuliaan</title>
		<link>http://spektakuler.com/inilah-pintu-pintu-menuju-kemuliaan/</link>
		<comments>http://spektakuler.com/inilah-pintu-pintu-menuju-kemuliaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 00:46:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spektakuler.com/?p=806</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr A Ilyas Ismail Iman (agama) seperti diterangkan Nabi SAW dalam hadis sahih, memiliki cabang yang banyak sekali jumlahnya, mulai dari komitmen tauhid, “Tidak ada Tuhan selain Allah,” hingga kepekaan terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan, seperti memungut dan menyingkirkan hambatan di jalan. (HR Muslim dari Abu Hurairah). Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/3-april-2012.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-807" title="3 april 2012" src="http://spektakuler.com/wp-content/uploads/2012/04/3-april-2012.jpg" alt="" width="325" height="260" /></a></p>
<p>REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr A Ilyas Ismail</p>
<p>Iman (agama) seperti diterangkan Nabi SAW dalam hadis sahih, memiliki cabang yang banyak sekali jumlahnya, mulai dari komitmen tauhid, “Tidak ada Tuhan selain Allah,” hingga kepekaan terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan, seperti memungut dan menyingkirkan hambatan di jalan. (HR Muslim dari Abu Hurairah).<span id="more-806"></span></p>
<p>Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa iman pada dasarnya bukan hanya kata-kata yang diucapkan (kalimatun tuqal), melainkan suatu keputusan yang menuntut tugas dan tanggung jawab multidimensional, berupa kepatuhan kepada Tuhan (devotional), kepedulian kepada sesama manusia (sosial), dan keluhuran budi pekerti alias akhlaq al-karimah (moral).</p>
<p>Menarik disimak pertanyaan Nabi SAW untuk menguji kadar keimanan para sahabat. Katanya, “Siapa yang pagi ini puasa?”</p>
<p>“Saya tuan,” jawab Abu Bakar.</p>
<p>“Siapa yang hari ini mengantar jenazah?” tanya Nabi lagi.</p>
<p>“Saya tuan,” jawab Abu Bakar.</p>
<p>Nabi bertanya lagi, “Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin?”</p>
<p>Abu Bakar pun menjawab, “Saya Tuan.”</p>
<p>Lalu, Nabi bertanya lagi, “Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit?”</p>
<p>Lagi-lagi Abu Bakar mengangkat tangan, seraya berkata, “Saya tuan.”</p>
<p>Lalu, beliau bersabda, “Tak menyatu semua itu pada diri seorang, kecuali ia masuk surga.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).</p>
<p>Kisah ini menarik dan syarat dengan pelajaran. Abu Bakar, sahabat Nabi yang satu ini, memang istimewa. Ia selalu bersama Nabi di kala suka dan duka. Ia adalah sahabat yang menemani Nabi SAW di Gua Hira, saat orang kafir, pembunuh bayaran, mengejar hendak membunuhnya. Ia selalu membenarkan, tanpa ragu sedikit pun, apa-apa yang dibawa dan disampaikan oleh Nabi. Maka, gelar al-Shiddiq layak disandangnya. Ia pun pantas menjadi pengganti Nabi (Khalifah) pertama.</p>
<p>Kisah ini menunjukkan bahwa jalan menuju Allah itu tidaklah tunggal, melainkan berbilang (muta`ddidah). Setiap kebaikan sejatinya adalah pintu atau jalan menuju Tuhan. Setiap orang dapat mengambil pintu atau jalan yang memungkinkan dirinya “bertemu” Allah, setingkat dengan ilmu, kemampuan, dan pengalamannya masing-masing.</p>
<p>Kisah ini juga menunjukkan pilar-pilar kebajikan yang diajarkan Islam. Di antaranya pilar kepatuhan yang tinggi kepada Allah SWT (ibadah). Dalam kasus ini, kebajikan itu ditunjukkan dengan ibadah puasa, shalat, dan mengantar jenazah. Kebajikan ini berdimensi vertikal.</p>
<p>Berikutnya pilar amal saleh, yaitu kebaikan sosial, yang ditunjukkan melalui kesediaan memberi makan kepada orang miskin. Kebajikan ini berdimensi sosial dan horizontal. Lalu berikutnya lagi, adalah pilar akhlak dan keluhuran budi pekerti, yang ditunjukkan dengan menjenguk orang sakit. Kebajikan ini berdimensi moral dan sekaligus sosial.</p>
<p>Dalam Alquran, kebajikan yang diajarkan Nabi SAW seperti diperagakan oleh Abu Bakar al-Shiddiq itu dinamakan al-Birr, yaitu kebajikan yang lapang dan luas (QS al-Baqarah [2]: 177).</p>
<p>Kebajikan di sini menunjuk bukan hanya pada aspek-aspek lahiriah dari agama, melainkan justru aspek batin (inner aspect) yang menjadi kekuatan penggerak lahirnya kebaikan sosial (amal saleh) dan kulaitas-kualitas moral (akhlaq al-karimah). Inilah jalan atau pintu menuju kemulian! Wallahu a`lam.</p>
<div style='clear:both'></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spektakuler.com/inilah-pintu-pintu-menuju-kemuliaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

